Senin, 06 Juli 2009

Hidup itu sebuah pilihan

Hidup itu sebuah pilihan.. terkadang ia berjalan bukan sesuai dengan apa yang ingin kita rencanakan..

Membuat Kita marah...
Membuat kita berpikir "ini gak adil buat gua"
Sedih, bahkan membuat kita sampai menangis...

Tapi semua itu harus kita lewati, bagaimana pun caranya... karena kita hanya punya satu kehidupan, untuk membuat suatu rencana yang indah di masa depan..

Jadi...loe harus tunjukin kepada "kelemahan loe" Bahwa GUA ITU KUAT, GUA ITU SABAR, GUA ITU IKHLAS, GUA ADALAH BAGIAN TERPENTING DARI DUNIA INI..

SEMANGAT YA de... JANGAN KECEWAKAN ORANG-ORANG YANG SEPENUH HATI MENDUKUNG LOE!!!

GUA PERCAYA, LOE BISA!!!!

Read more...

Guardian Angel

Hari ini Lelah banget... Ke kampus cuma jadi turis dadakan...

ngabisin kopi, sedikit es coklat, tanpa garam....

Huauaah.... Mulai ngantuk...
berharap ada Guardian Angel,yang bilang ke gua...

WOI BANGUN.... ADA KEBAKARAN....

Read more...

Jumat, 12 Juni 2009

Pidato Obama saat berkunjung ke Mesir

PIDATO PRESIDEN
PERMULAAN YANG BARU

Cairo University
Kairo, Mesir
1:10 Siang (Lokal)
PRESIDEN OBAMA: Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa
terhormat untuk berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan
dijamu oleh dua institusi yang luar biasa. Selama lebih seribu tahun, Al
Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih
seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama,
anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima
kasih atas keramahan anda, dan keramahan rakyat Mesir. Dan saya juga
bangga untuk membawa bersama saya niat baik rakyat Amerika, dan salam
perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.
Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat
dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada kekuatankekuatan
sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini
berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama ini mencakup
berabad-abad koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan perangperang
bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat
kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim,
serta sebuah Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas
penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka tanpa mengacuhkan aspirasi
mereka sendiri. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang dibawa modernitas
dan globalisasi membuat banyak Muslim menilai Barat bersikap memusuhi
tradisi Islam.
Kalangan ekstrimis yang keras telah mengeksploitasi keteganganketegangan
yang ada dalam segmen kecil namun merupakan minoritas kuat
di kalangan Muslim ini. Serangan pada tanggal 11 September 2001 dan
upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga
sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya untuk menilai Islam
tidak saja memusuhi Amerika dan negara-negara Barat, tapi juga hak asasi
manusia. Semua ini telah memupuk rasa takut dan lebih banyak rasa tidak
percaya.
Selama hubungan kita ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kita, kita
akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian bukan perdamaian,
mereka yang mempromosikan konflik bukan kerja sama yang dapat
membantu semua rakyat kita mencapai keadilan dan kemakmuran.
Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.
Saya datang ke Kairo untuk mencari sebuah awal baru antara Amerika
Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan
rasa saling menghormati – dan didasarkan kenyataan bahwa Amerika dan
Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Justru
keduanya bertemu dan berbagi prinsip-prinsip yang sama – yaitu prinsipprinsip
keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.
Saya mengakui bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam.
Saya tahu sudah banyak pemberitaan mengenai pidato ini, tetapi tidak ada
satu pidato tunggal yang mampu menghapus ketidakpercayaan yang
terpupuk selama bertahun-tahun, dan saya pun tidak mampu dalam waktu
yang saya miliki siang ini menjawab semua pertanyaan rumit yang
membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa supaya kita bisa
melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama
lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya
diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya yang terus
menerus dilakukan untuk mendengarkan satu sama lain; untuk belajar dari
satu sama lain; untuk saling menghormati, dan untuk mencari persamaan.
Sebagaimana kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan
bicaralah selalu tentang kebenaran.” (Tepuk tangan.) Ini yang saya akan
coba lakukan hari ini – untuk berbicara tentang kebenaran sebaik
kemampuan saya, dengan direndahkan hati oleh tugas di depan kita, dan
dengan keyakinan bahwa kepentingan yang sama-sama kita miliki sebagai
umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan
kita.
Nah, sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya
pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari keluarga asal
Kenya yang mencakup sejumlah generasi penganut Muslim. Sewaktu kecil,
saya tinggal beberapa tahun di Indonesia dan mendengar lantunan adzan di
waktu subuh dan maghrib. Ketika pemuda, saya bekerja di komunitaskomunitas
kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan
kedamaian dalam keimanan Islam mereka.
Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang
besar terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas
Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan
membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa.
Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim – (tepuk tangan) -- yang
mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian
dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai
penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan
kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang
menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang
dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan
kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan
melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan
ras adalah hal-hal yang mungkin. – (tepuk tangan)
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika.
Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat
menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami
John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter
bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.”
Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah
memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam perang-perang
kami, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil,
mengajar di perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena
olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung
kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga
Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini,
ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan
menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami
– Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya. (tepuk tangan)
Jadi saya telah mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke
kawasan tempat agama ini pertama kali diturunkan. Pengalaman tersebut
memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus
didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam.
Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai
Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam
di mana pun munculnya. (tepuk tangan)
Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang
Amerika. (tepuk tangan) Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan
stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah
kerajaan yang hanya punya kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah
menjadi salah satu sumber kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami
lahir akibat revolusi melawan sebuah kerajaan. Kami didirikan berdasarkan
sebuah ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah
menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan
arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di
sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap
sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus
unum: “Dari banyak menjadi satu”.
Banyak yang telah dikatakan mengenai fakta bahwa seorang Amerika
keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih
sebagai presiden. (tepuk tangan) Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu
yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi
setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke
pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara
kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari
rata-rata. (tepuk tangan)
Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari
kebebasan memraktikkan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara
bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara
kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk
membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk
menghukum mereka yang mengingkarinya. (tepuk tangan)
Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan
saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa
terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki
aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk
memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk
mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal
yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan.
Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan kita hanyalah awal
dari tugas kita. Justru ini adalah sebuah awal. Kata-kata saja tidak dapat
memenuhi kebutuhan rakyat kita. Kebutuhan-kebutuhan itu baru terpenuhi
jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus
bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi
adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan
kita semua.
Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika
sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut
dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko.
Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi
semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu
rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi
bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai,
itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. (tepuk tangan) Itulah artinya
berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama
lain sebagai umat manusia.
Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah
manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba
menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini,
sikap seperti itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling
ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau
sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi
apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap
olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan; kemajuan
harus dibagi bersama. (tepuk tangan)
Nah, itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber
ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus
menghadapi ketegangan-ketegangan ini secara langsung. Dan dalam
semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin
mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi
bersama.
Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme keras dalam
semua wujudnya.
Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang –
dan tidak akan pernah – berperang dengan Islam. (tepuk tangan) Kami
akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras
yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang
juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki,
perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang
pertama sebagai Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.
Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika
dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika
Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang
luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya
karena perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau
membenarkan peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al
Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah
kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan
banyak negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain.
Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka,
mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan
tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka
memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk
memperluas jangkauan mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan;
ini adalah fakta yang harus dihadapi.
Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di
Afghanistan. Kami tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat
menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan
wanita kami. Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan
konflik ini. Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara
kami jika kami bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di
Afghanistan dan Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin
orang Amerika sebisa mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan
yang ada sekarang.
Itulah sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi
biayanya besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita
yang seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah
membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam
agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim.
Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia,
kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran
mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia
seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang
menyelamatkan satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat
manusia. (tepuk tangan) Iman indah yang diyakini oleh lebih semiliar
orang sungguh lebih besar daripada kebencian sempit sekelompok orang.
Islam bukanlah bagian dari masalah dalam memerangi ekstrimisme keras –
Islam haruslah menjadi bagian penting dari penggalakkan perdamaian.
Kami juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan
masalah di Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk
menanam investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun
ke depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah,
rumah sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu
mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami
menyediakan lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat
Afghanistan membangun ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang
dibutuhkan masyarakat.
Kini saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti
Afghanistan, Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan
perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya percaya
bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam Hussein,
saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah mengingatkan
Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan membangun
konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun
memungkinkan. (tepuk tangan) Kita bahkan dapat mengingat kata-kata
salah satu presiden terbesar kami, Thomas Jefferson, yang mengatakan:
“Saya berharap kebijakan kita akan bertambah sejalan dengan kekuatan kita,
dan mengajarkan kita bahwa semakin sedikit kita menggunakan kekuatan,
justru semakin besar kekuatan itu.”
Hari ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk
membantu Irak membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk
menyerahkan Irak ke tangan rakyat Irak. (tepuk tangan) Saya telah
menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami tidak berencana mendirikan
basis di sana, dan tidak mengklaim baik teritori maupun sumber daya
mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan mereka sendiri. Itu sebabnya saya
memerintahkan pencabutan brigade-brigade tempur kami sampai bulan
Agustus mendatang. Itu sebabnya kami akan menghormati kesepakatan
kami dengan pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis untuk menarik
pasukan tempur dari kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk
memulangkan semua tentara kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan
membantu Irak melatih Tentara Keamanan dan membangun ekonominya.
Tapi kami akan mendukung Irak yang aman dan bersatu sebagai mitra, dan
tidak pernah sebagai pelindung.
Dan akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi
kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan
prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi
negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami,
tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan
dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkahlangkah
konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang
praktik penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan
penutupan penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan.
Jadi Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan
bangsa-bangsa dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam
kemitraan dengan masyarakat-masyarakat Muslim yang juga terancam.
Semakin cepat kaum ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakatmasyarakat
Muslim, semakin cepat kita semua akan menjadi selamat.
Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan
adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab.
Ikatan yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui.
Ikatan ini tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan
sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi
berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari.
Di seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad,
dan anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang
tidak pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald
yang menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi
diperbudak, disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich.
Enam juta orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi
Yahudi di Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar,
bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran –
atau mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah
dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak
umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di
kawasan ini.
Di sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang
Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan
memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah
merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu
di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga
untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka
jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang hadir
bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang dihadapi
rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak akan bersikap
tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat, kesempatan, dan
sebuah negara milik mereka sendiri. (tepuk tangan)
Selama beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat
dengan aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan
yang membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding –
rakyat Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya
negara Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus
dan serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang
sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari satu
sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran: satu-satunya
resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui dua negara, di
mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup dalam damai dan
keamanan. (tepuk tangan)
Ini adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan
Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil ini,
dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk tangan)
Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut Peta Jalan
telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi mereka – dan bagi
kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita.
Warga Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat
kekerasan dan pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama
berabad-abad, rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut
sebagai budak dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit.
Tetapi bukan kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan
sepenuhnya. Sebuah tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi
kondisi ideal yang merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini
juga diceritakan oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan;
dari Eropa Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung
kebenaran yang sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu.
Bukanlah sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke
anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam bis.
Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan cara
untuk menghilangkannya.
Kini waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada
apa yang bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan
kemampuan untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan
rakyatnya. Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat
Palestina, tetapi mereka juga punya tanggung jawab. Guna memainkan
peran yang memenuhi aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan
rakyat Palestina, Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati
persetujuan di masa lalu dan mengakui hak eksistensi Israel.
Secara bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana
hak Israel untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak
Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang
berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak menerima
keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan)
Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan
melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya
pembangunan pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan)
Israel harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat
Palestina bisa hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka.
Selain menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya
krisis kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu
pula halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat.
Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi
bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil
langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu.
Akhirnya, Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif
Perdamaian Arab merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari
tanggung jawab mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk
mengalihkan perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah
lainnya. Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu
rakyat Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara
mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus
pada masa lalu yang begitu melemahkan.
Amerika akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang
memperjuangkan perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami
katakan secara pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara
Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi
secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan
lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah
negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak
berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang
benar.
Terlalu banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah
ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang
menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa
menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana
Tanah Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang
diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman
dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan
sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara
damai sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan
Muhammad (damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk
tangan)
Sumber ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama
sehubungan hak-hak dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.
Isu ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan
Republik Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya
sebagian lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah
yang kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika
memainkan peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara
demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam
tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil
Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam
masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran
bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini,
bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin
dibangunnya.
Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami
akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak isu yang harus
dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah maju tanpa
prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi jelas
bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata nuklir kita
telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar terkait
kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan perlombaan
senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus ke dalam jalur
sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan non-proliferasi global.
Saya memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara
memiliki senjata sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa
menentukan negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah
sebabnya saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk
mengusahakan sebuah dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata
nuklir. (tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya
akses ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung
jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu
merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua
pihak yang mematuhinya.
Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi. (tepuk
tangan)
Saya percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak
bersuara kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta
hak untuk semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang
penggalakkan demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari
kontroversi ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem
pemerintahan apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh
negara lainnya.
Tetapi hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara
yang mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan
prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi
rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua
orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa
menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki
keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang
merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat
dan ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai
penegakan hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap
orang; pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya;
kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar ideide
Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami akan
mendukungnya di mana saja.
Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas
adalah: pemerintahan-pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada
akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman.Tak ada garis lurus untuk
menciptakan janji itu.Tetapi yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak
pernah berhasil melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari
semua suara damai dan patuh hukum agar didengar di seluruh dunia
meskipun kita tidak sepakat dengan mereka. Dan kami menyambut gembira
semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah
dengan menghormati rakyatnya. Dimanapun kekuasaan itu berada,
pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk
semua fihak yang memegang kekuasaan,
Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya
pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji
memberangus hak-hak orang lain. (tepuk tangan) Di manapun kekuasaan
itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar
tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan. anda harus
mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda harus
menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat
toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda
dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa ramuan
ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.
ANGGOTA HADIRIN: Barack Obama, kami cinta anda!
PRESIDEN OBAMA: Terima kasih. (tepuk tangan)
Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan
beragama.
Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita
menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya
menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di
mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini.
Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan
mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting
agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara.
Di kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan,
yakni mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan
keyakinan orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus
ditegakkan – apakah itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di
Mesir. (tepuk tangan) Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara
warga Muslim, sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah
mengakibatkan kekerasan yang tragis, khususnya di Irak.
Kebebasan beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama.
Kita harus senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk
melindunginya. Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal
telah mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama
mereka. Itulah sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga
Muslim Amerika guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat.
Juga penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada
warganegara Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka
– misalnya, dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang
perempuan Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan
ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme.
Keyakinan seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami
mengikhtiarkan proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga
Kristen, Muslim dan Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira
usaha dialog Antar Agama Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam
Aliansi Keberadaban. Di seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog
menjadi pelayanan Antar Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai
rakyat mengarah pada tindakan – apakah itu berupa perang melawan
malaria di Afrika atau menyediakan bantuan bencana alam.
Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan.
Saya tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan
beberapa pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi
rambutnya seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga
berpendapat bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati
pendidikan tidak diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negaranegara
di mana kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur.
Saya perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan
semata-mata merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh
dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya
Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara
itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan
aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia.
Itulah sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang
mayoritas penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan
buta huruf untuk perempuan, dan membantu perempuan muda
memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman untuk usaha kecil yang
membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka.
Saya yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat
setara seperti putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita
bersama bisa dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang –
laki-laki dan perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya
berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti laki-laki
agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang memilih
peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu
haruslah merupakan pilihan mereka sendiri.
Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan
kesempatan.
Saya tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan.
Internet dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi
juga seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi
kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru,
tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara –
termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan.
Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan
ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita – hal-hal yang
paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita, tradisi kita dan
keyakinan kita.
Tetapi saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak
perlu ada kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti
Jepang dan Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap
mempertahankan budaya mereka. Hal yang sama juga berlaku pada
kemajuan mengagumkan dalam Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke
Dubai. Di masa kuno dan di masa kita, masyarakat Muslim membuktikan
bahwa mereka mampu berada di garis depan inovasi dan pendidikan.
Ini penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata
didasarkan pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga
tidak bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan.
Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan
minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada
pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa
pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21.
(tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan
investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara saya.
Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada minyak
dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan yang
lebih luas.
Dalam pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan
memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika,
sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di
tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa
Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan
investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di
seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang
remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.
Dalam rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan
sebuah korps relawan bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di
negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan
menyelenggarakan KTT Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi
bagaimana kita bisa mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan
dan wiraswasta sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Dalam bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah
dana baru untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke
pasar-pasar sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka
pusat keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta
mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program
yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan
hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen baru.
Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama
Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan
memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan
kesehatan anak dan ibu.
Semua ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap
bergabung dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi
kemasyarakatan, pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim
diseluruh dunia guna membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan
yang lebih baik.
Isu-isu yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita
punya tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang
kita cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam
rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana rakyat
Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka sendiri yang
aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai; sebuah dunia di
mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak dari semua
umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia
yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama.
Saya tahu ada banyak - Muslim dan non-Muslim - yang
mempertanyakan apakah kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa
ingin menghasut api perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa
mengatakan hal ini tidak ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk
berseteru dan berbagai peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang
sekedar skeptis bahwa perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak
ketakutan, begitu banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih
untuk terperangkap dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah
maju. Dan saya secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari
setiap kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki
kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia.
Kita semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat.
Pertanyaannya adalah apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada halhal
yang memecah belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada
usaha – usaha berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan
perhatian pada masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri
semua insan manusia.
Hal-hal ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang
menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan
introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang
ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang
merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain
sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku
lintas negara dan lintas rakyat – sebuah keyakinan yang tidak baru, yang
tidak hitam atau putih atau coklat; bukan kebenaran Kristen, atau Muslim
atau Yahudi. Ini merupakan keyakinan yang berdetak dalam dari buaian
keberadaban, dan masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini
merupakan rasa percaya pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya
kesini hari ini.
Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita citacitakan,
tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal
yang baru, sambil ingat pada apa yang tertulis.
ALKitab Suci Al Quran mengatakan kepada kita, “Wahai manusia!
Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan
perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku
agar kamu saling kenal mengenal…”
Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk
maksud menggalakkan perdamaian.”
Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta
perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.” (tepuk tangan)
Rakyat seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu
merupakan visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima
kasih. Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak.
Terima kasih (tepuk tangan)

Read more...

Rabu, 10 Juni 2009

Sabar = Bodoh / Bodoh = Sabar

Aku terpaku dua kata yang bersamadengan, bodoh=sabar/sabar=bodoh, mereka bilang “aku bodoh” aku bilang “aku sabar” mereka bilang “aku sabar didalam kebodohan” aku bilang “kebodohan membuat aku sabar” nah lo !!! aku bodoh !! atau aku sabar !!!,

Berawal dari mulutmu yang selalu membicarakah hari esok, aku percaya, tapi tidak hari ini, besok begitu absurd untuk aku pahami, dan kau berbicara dengan sebuah kepastian yang bertanda tanya, lagi-lagi aku percaya, tapi tetap alibi mu tidak untuk hari ini.

Ini soal rasa adan kata, bukan cinta yang menjelma luka, atau luka yang menjadi cinta.wah…!! bagaimana ini nampak nya rasa dan kata sudah tidak bersahabat seperti dulu lagi, mereka kini bermain dialam yang berbeda.

Mimpi tentang kebahagiaan dan alibi tentang hari esok benar-benar membuat ku ingin bangun, tapi entah mengapa aku masih saja terus tertidur meski aku sudah tidak ngantuk lagi.

Dan pertanyaan bersamadengan itu pun muncul kembali,

Adakaha orang sabar, yang sudah tidak ngatuk masih saja terus tertidur, atu orang bodoh yang malas untuk bangun ???

Uhhhhh !!! ternyata kata dan rasa benar-benar bermusuhan,mereka tidak lagi satu alam, memasung hatiku lewat siluet tengah malam.

By :Renny Re-Chan Rumhil

Read more...

“Siapapun Objeknya, Tuhan telah mengatur dan menggariskan takdir kita”.

Beberapa waktu yang lalu teman kuliah saya mampir ke kosan, biasalah anak ABG gak jauh2 curhat soal percintaa, gak ngerti kenapa mereka suka curhat sama org “setres” yg gak punya pengalaman didunia berpacara seperti “saya”. Kok bisa ya org yg sudah pacaran puluhan kali curhatnya sama org yg baru pacaran satu kali, hahahha !! terlalu aneh untuk dipahami jadi lupakan saja.

Teman saya bercerita,katanya cinta dia telah dihianati oleh kekasihnya, emmm klo gak salah hitung, ini pacarnya yang ke 35 !!. dan anehnya setiap curhat dia selau bilang begini “coba dulu gw gak kenal dia, pastinya gw gak akan sakit hati” . rasanya pengen ketawa, tp harus ditahan karena ini bukan moment yg tepat untuk ketawa!! dan seperti biasa dengan gaya bicara khas saya, saya Cuma mengomentari “ hellow !! “Siapa pun objeknya,tuhan telah mengatur dan menggariskan takdir kita” mungkin tuhan sudah menggariskan bahwa tanggal 13-01-2009, lo akan merasakan “sakit hati” dan siapapun orangnya dia akan bikin hati lo sakit, dan itu yg sudah tuhan gariskan,so iklas aja. Emang itu udah takdir lo, mau lari kemana aja, ngumpet dimana pun pasti begitu, namanya juga takdir !!! ha ha ha ha

By : Renny Re-Chan Rumhil

Read more...

Senin, 08 Juni 2009

Cinta

Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu, jangan mengharapkan
balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.

Read more...

Bagaimana Menghilangkan Kemalasan

Kemalasan ini termasuk kata yang paling tua dipakai manusia. Kita akrab dengan kata ini dari kecil sampai tua. Nah, kalau melihat praktek hidup dan teori-teori yang ada, bentuk dan sifat kemalasan itu bisa dijelaskan seperti di bawah ini:

Pertama, ada kemalasan yang dipicu oleh perubahan faktor eksternal. Meminjam istilah yang dipakai Philip G. Zimbardo, Scott, Foresman (1979) dalam bukunya Psychology & Life, ini bisa disebut kemalasan yang bentuknya "state" (keadaan). Seorang pengusaha akan mendadak malas berusaha ketika uang hasil usahanya selama raib ditipu orang. Seorang pelajar / mahasiswa akan mendadak malas ketika dosen / guru kesayangannya tidak lagi diberi tugas mengajar materi kesayangan. Banyak orang yang tiba-tiba malas saat isi dompetnya kosong. Umumnya, kemalasan yang bentuknya "state" ini bersifat sementara (temporer).

Kedua, ada kemalasan yang timbul akibat irama mood. Mood adalah perubahan intensitas perasaan. Ada yang menyebutnya juga dengan istilah siklus kehidupan (life cycle). Kemalasan semacam ini umum dialami oleh hampir semua manusia. Orang yang paling giat pun terkadang menghadapi saat-saat yang membuatnya merasa malas. Yang membedakan orang di sini bukan soal pernah dan tidak pernahnya, tetapi adalah apa yang dilakukan saat detik-detik buruk itu tiba. Ada yang hanya melamun, jalan-jalan ke sana kemari tanpa tujuan, ada yang mengisi membaca, menonton dan lain-lain.

Sekedar sebagai sumbang saran, baiknya kita perlu mendesain kegiatan khusus untuk menghadapi detik-detik semacam ini. Kalau bisa, kegiatan itu kita desain se-suportif mungkin dengan kegiatan utama. Kita bisa meniru kegiatan yang dilakukan seorang dirut media cetak yang saya kenal. Biasanya, bapak ini keliling ke meja-meja karyawan sekedar untuk bertanya sana-sini. Begitu sudah mendapatkan gambaran atau inspirasi baru, dia kembali lagi ke tugas utamanya. Inipun bisa kita tiru meski kita bukan dirut.

Ketiga, ada kemalasan yang memang itu kita sendiri yang menciptakan. Kemalasan semacam ini bisa disebut "trait", bawaan. Bawaan di sini maksudnya bukan bawaan dari lahir atau semacam yang sering kita sebut "takdir seseorang". Bawaan di sini maksudnya kita yang menciptakan, kita yang memilih, kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Kemalasan seperti ini sifatnya permanen, atau abadi. Selama kita tidak mengubahnya, selama itu pula kemalasan itu bertengger di dalam diri kita. Ada yang bilang, kemalasan bawaan ini tidak ada obatnya. Siapapun tidak dibekali mukjizat untuk menyembuhkan penyakit yang bernama kemalasan bawaan ini, termasuk para nabi.

Meski dalam teorinya kemalasan itu bisa kita kotak-kotakkan sedemikian rupa, tetapi dalam prakteknya kerapkali kotak-kotak itu tidak secara jelas dapat dibedakan. Bahkan ketika kita ingin mengorek sebab-sebab kemalasan seseorang dari hulu ke hilir, ini tidak akan ada ujung pangkalnya (saking banyaknya dan saking beragamnya).

Satu-satunya jalan adalah memotong mata rantainya. Caranya adalah dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusat (locus of control). Alasannya sangat jelas. Meski memang ada sejumlah faktor eksternal yang membuat kita malas, tetapi kalau kita bertekad menolak menjadi pemalas, maka kemalasan itu sementara sifatnya. Tapi bila tidak, kemalasan yang dipicu apapun akan abadi atau minimalnya berlangsung terlalu lama, bahkan bisa menjadi label, ciri khas atau sifat.


APA YANG MEMBUAT KEMALASAN ITU ABADI?

Menurut logika yang normal, tentu tidak ada orang yang ingin malas. Buktinya, tidak ada orang yang merasa bahagia dengan kemalasannya. Jika begitu, berarti kira-kira kemalasan itu muncul karena ada sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu ini banyak. Berdasarkan praktek dan teori, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan petunjuk atau acuan. Ini antara lain:

Pertama, tidak memiliki sasaran hidup yang jelas. Sasaran ini bisa berbentuk: apa yang ingin kita lakukan, apa yang ingin kita raih, apa yang ingin kita miliki. Sasaran ini ada yang bersifat jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. Ada yang disebut visi, tujuan (goal), atau juga target.

Kenapa sasaran itu terkait? Oh tentu. Kalau kita sudah tahu sasaran yang kita inginkan, maka logikanya kita akan terdorong untuk mencapainya. Kejelasan sasaran terkait dengan kekuatan motivasi dan tekad seseorang. Menurut Anthony Robbin, di dunia ini sebetulnya tidak ada orang yang malas. Orang menjadi malas karena tidak memiliki tujuan yang jelas.

Penjelasan lain mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki sasaran atau tujuan hidup yang benar-benar ingin diraih sangat berpotensi terkena apa yang disebut kemandekan batin. Batin yang mandek gampang dihinggapi berbagai penyakit dan kotoran, salah satunya adalah kemalasan. Jadi, kemalasan terkait dengan "developmental process".

Kedua, filsafat hidup yang negatif. Ini misalnya saja: "Daripada sudah bekerja keras tetapi tidak kaya-kaya, mendingan kerja asal-asalan aja", "Ngapain sekolah rajin, toh sudah banyak sarjana yang nganggur", "Boro-boro cari rizki yang halal, yang haram aja susahnya minta ampun", dan lain-lain dan seterusnya.

Kenapa itu semua disebut negatif? Secara arah (direction and orientation), kesimpulan demikian kerap menggeret kita pada pola hidup yang malas. Jadi, yang perlu kita waspadai adalah arahnya, bukan semata benar dan salahnya secara konten. Lebih baik kita berpikir perlu belajar yang lebih giat lagi supaya tidak menjadi sarjana yang nganggur. Lebih baik berpikir perlu bekerja lebih keras lagi dan lebih cerdas lagi supaya kaya. Meski ini tidak bisa memberikan jaminan dalam waktu yang sekaligus, tetapi arahnya positif, dinamikanya positif dan energinya positif. Kita perlu sadar bahwa terkadang ada banyak ucapan yang benar tetapi tidak bermanfaat (positif).

Ketiga, terlalu banyak dan terlalu lama membiarkan pikiran atau perasaan negatif. Semua orang pada dasarnya pernah memunculkan pikiran negatif terhadap diri sendiri, orang lain atau keadaan. Yang membedakan terkadang adalah kadarnya, frekuensinya dan kecepatannya dalam membersihkan diri. Kenapa pikiran dan perasaan berpengaruh? Ini sudah jelas dapat kita rasakan langsung.

Kalau kita membiarkan penilain negatif terhadap diri sendiri yang terlalu lama atau terlalu banyak, maka yang muncul adalah kesimpulan akumulatif yang negatif. Ini misalnya: saya tidak mampu, saya tidak bisa, saya selalu minder, saya ragu-ragu, saya malas-malasan, saya tidak bahagia dengan diri saya, dan seterusnya. Kesimpulan demikian memang tidak membuat kita mati, tetapi, seperti yang kita alami, kesimpulan demikian sangat menghalangi munculnya energi psoitif.

Karena itu, baik ajaran agama atau ilmu pengetahuan punya nasehat yang sama. Dalam keadaan apapun atau dalam posisi apapun kita dianjurkan untuk memilih pikiran dan mentalitas yang berorientasi syukur. Syukur artinya kemampuan seseorang dalam mengaoptimalkan penggunaan resource yang sudah ada untuk meraih prestasi dengan cara-cara positif. Berpikirlah untuk menggunakan potensi seoptimal mungkin. Berpikirlah untuk menggunakan fasilitas seoptimal mungkin.

Karena kita selalu rentan terkena pikiran negatif, baik itu kita ciptakan sendiri atau kiriman dari orang lain, maka idealnya, membersihkan pikiran dan perasaan itu perlu kita lakukan seperti kita mandi yang tidak pernah cukup sekali. Tidak cukup membaca buku sekali, tidak cukup mendengarkan nasehat inspiratif sekali, tidak cukup membaca artikel sekali dan tidak cukup memotivasi diri sekali. Itu kita butuhkan sepanjang hidup sejauh kita merasakan adanya kotoran yang mengganggu.

Keempat, tidak mau memilih yang positif. Untuk orang dewasa (baca: bukan anak-anak) ini adalah kunci. Gagal bercinta, gagal usaha, gagal berkarir, dan lain-lain, memang itu semua bisa memicu kemalasan. Tetapi, seperti yang sudah kita singgung, kemasalan di situ sifatnya hanya sementara. Yang kerap membuatnya abadi adalah penolakan untuk segera bangkit. Jika kita menolak membangkitkan-diri, semua kemalasan sifatnya abadi. Jika kita tetap memilih menjadi pemalas, maka tidak ada kekuatan apapun yang bisa membuat kita menjadi tidak malas.

Kalau mau pakai pendapat Bandura (www.mhnet.org,2002), berbagai prilaku immoral dan kurang berarti itu (termasuk kemalasan), lebih terkait dengan mekanisme mental ketimbang dengan kesalahan sistem nilai yang dianut seseorang. Untuk orang dewasa, pasti semua sudah tahu kalau kemalasan itu bukan sesuatu yang positif. Meski sudah tahu semua tetapi pengetahuan ini tidak otomatis menggerakkan prilaku seseorang supaya tidak malas. Ini bukti bahwa kemalasan itu lebih terkait pada mekanisme mental atau mentalitas seseorang. Tindakan kita, kata Dietrich Bonhoeffer, lebih banyak digerakkan oleh kesadaran untuk bertanggung jawab. Ini juga pas untuk orang dewasa.

Kalau kita sadar tanggung jawab kita sebagai pelajar / mahasiswa, rasanya tidak mungkin kita bisa menjadi pelajar yang malas. Kalau kita sadar tanggung jawab kita sebagai karyawan, rasanya tidak mungkin kita bisa menjadi karyawan yang malas. Dan seterusnya dan seterusnya. Kesadaran inilah yang memunculkan motivasi dan komitmen intrinsik (inisiatif dan tekad dari dalam).

Kelima, kurang belajar menggunakan ledakan emosi. Marah, tidak puas, malu, takut, ingin dipuji, dan seterusnya itu adalah termasuk bentuk ledakan emosi. Ini bisa kita gunakan untuk mengusir kemalasan dan bisa pula kita gunakan untuk menambah kemalasan. Takut akan dimarahi orangtua kalau nilai kita jeblok dapat kita gunakan untuk memacu diri dalam belajar. Malu dikatakan orang nganggur bisa kita gunakan untuk memperbanyak aktivitas. Tidak puas atas nasib kita pada hari ini dapat kita gunakan untuk mendorong perubahan.

Jadi, meski ada ledakan emosi negatif dan positif tetapi penggunaannya diserahkan kepada kita. Kalau digunakan untuk hal-hal positif, jadinya positif. Tetapi kalau digunakan untuk hal-hal negatif, ya jadinya bertambah negatif. Untuk orang yang belum sanggup membangkitkan gairah dari dalam dirinya atau orang yang belum berhasil membangun pondasi personal yang kuat, tehnik ini lebih sering berhasilnya. Cuma memang durasinya sementara dan gampang luntur di samping juga bisa berpotensi menimbulkan penyimpangan (motivasi minus atau negatif). Karena itu tetap dibutuhkan transformasi ke dalam.


Membangun Pondasi Personal

Kenapa perlu membangun fondasi personal? Seperti yang sudah kita singgung, penyebab dan pemicu kemalasan itu kalau dicari banyak (tak terhitung). Apalagi jika yang kita cari itu adalah sebab eksternal di luar diri kita. Meski demikian, toh ujung-ujungnya yang akan menjadi kunci utama di sini adalah tetap diri kita. Inilah alasan kenapa kita perlu membangun fondasi itu.

Fondasi personal adalah seperangkat dasar-dasar hidup yang kita gunakan sebagai landasan dalam melangkah. Dengan fondasi yang kuat ini diharapkan hidup kita tidak mudah goyah atau ambruk oleh hal-hal yang tidak kita inginkan. Apa yang diperlukan untuk membangun pondasi personal ini?

Pertama, menjaga stabilitas. Kata orang, hidup ini seperti sepeda. Agar stabilitasnya terjaga, maka harus digerakkan, dijalankan atau dinaiki. Begitu sepeda itu berhenti, maka stabilitasnya hilang. Bagaimana menstabilkan hidup? Ini memang butuh sasaran dan program. Seperti yang sudah kita bahas, sasaran itu akan menggerakkan kita untuk mencapainya. Supaya keseimbangannya sempurna, sasaran itu kita susun seharmonis mungkin dengan keadaan diri kita.

Katakanlah jika anda seorang pelajar atau mahasiswa. Jika anda membuat sasaran yang tidak match dengan keberadaan anda sebagai pelajar atau mahasiswa, ini akan berpotensi menimbulkan kemalasan dalam belajar. Buatlah sasaran, target, program yang match dengan keberadaan dan keadaan anda saat ini.

Kedua, perlu melakukan alignment. Istilah ini kerap dipakai dalam manajemen bisnis. Pengertian dasarnya adalah upaya untuk meluruskan langkah agar tidak keluar dari track, rel, sasaran, target, tujuan, visi, misi dan seterusnya. Menjalankan usaha itu sama seperti menajalankan kapal. Angin kencang, ombak, badai atau cuaca buruk bisa membelokkan arah kapal lalu keluar dari track. Supaya kembali pada track harus ada "alignment".

Begitu juga dengan hidup kita. Banyak peristiwa atau perlakukan dari luar yang berpotensi memicu kemalasan, seperti misalnya: gagal, menghadapi orang yang tidak ko-operatif, didholimi orang, dan lain-lain. Banyak juga kebutuhan, keinginan dan masalah yang terkadang menghimpit lalu membuat kita keluar dari track. Supaya itu semua tidak menjadi pemicu dan penyebab kemalasan yang abadi atau terlalu lama maka dibutuhkan alignment. Ini misalnya kita mengingat lagi sasaran kita, tujuan kita, target kita, program kita, dan seterusnya.

Ketiga, perlu memiliki personal-urgency. Urgency di sini desakan ke dalam atau semacam deadline yang kita buat sendiri untuk diri kita (personal-impose). Untuk membangkitkan diri atau mengusir kemalasan, baik itu temporer atau abadi, biasanya ini dibutuhkan. Kekurangan kita umumnya adalah terlalu lama memikirkan dan merasakan kemalasan, misalnya: kenapa saya malas, apa yang membuat saya malas, bagaimana tip-tipnya supaya tidak malas, dan lain-lain tetapi tidak membuat kita segera melaksanakan personal-impose.

Adapun tehniknya mungkin perlu memberi batas waktu atau target pencapaian yang spesifik. Ini bisa kita mulai dari yang paling kecil misalnya bangun pagi. Banyak orang yang tidak bisa bangun pagi karena tidak memiliki deadline jam berapa harus bangun dan apa yang akan dilakukan setelah bangun pagi. Karena itu, para ahli menyarankan timing dalam membuat sasaran, entah itu jangka pendek, menengah atau jangka panjang.

Keempat, perlu pembelajaran yang terus menerus (continuous learning). Seperti yang sudah sering kita bahas, pembelajaran itu artinya memperbaiki diri dari apa yang kita lakukan. Untuk bisa belajar ini syaratnya hidup kita harus dinamis. Syarat untuk dinamis harus ada sasaran yang betul-betul kita perjuangkan. Rasanya sulit untuk memperbaiki diri tatkala hidup kita statis atau diam. Batin yang dinamis melahirkan kemauan keras, sementara batin yang statis biasanya malah membuat kita keras kepala.

Kelima, perlu membuka diri terhadap berbagai pencerahan atau sesuatu yang bisa meng-inspirasi, memotivasi, membersihkan kotoran batin dan menghidupkan pikiran. Ini bentuknya banyak, misalnya saja: membaca buku atau artikel, mendengarkan ceramah atau cerita orang, melihat kejadian, berwisata yang mendidik, dan lain-lain. Intinya, seperti kesimpulan Krishnamurti saat ditanya wartawan, kemalasan itu muncul when the mind is a sleep! Semoga bermanfaat.

Read more...

ADD TO BLOG

http://imgcash6.imageshack.us/img397/4715/youtubelogokr3.png

Cari Blog Ini

ADD TO BLOG

Fans

Kenapa harus bicara

Kenapa harus bicara
Mengapa mata bisa bicara akan cinta

About This Blog

Masih binggung...

Apa yang membuat kamu menderita?

Powered By Blogger

  © Free Blogger Templates Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP